Pomade Review: Rita Lavender Brillantine

Apabila ditengah-tengah atau selesai membaca ada pertanyaan, silahkan buka post Pomade FAQ (klik sini) apabila ada pertanyaan karena pertanyaan yang paling sering ditanya sudah dijawab disana.

Pertama, sebenarnya produk ini bukanlah pomade. Namun tetap gw review dalam kategori pomade karena karakteristiknya yang sangat mirip pomade. Namun yang namanya brilliantine biasanya hanya setara pomade petroleum yang light. Kedua, nama lengkap pomade ini cukup panjang yaitu Rita Old English Solidified Lavender Brillantine. Sebenarnya minyak rambut ini bukan pomade, tapi brillantine (sesuai namanya).

Pomade ini adalah pomade buatan Surabaya yang sudah beredar sejak 1948. Seperti layaknya minyak rambut produksi lokal lainnya, mereka kebanyakan hanya dikenal oleh kaum senior yang mengalami masa remaja pada era 50-60an. Sepertinya minyak rambut/pomade lokal sangat “underground” di jaman sekarang. Tanpa basa-basi tentang sejarah, gw mulai reviewnya sekarang.

Pomade ini dikemas dalam kaleng bundar pipih berukuran 65 gram. Pomade ini bisa didapatkan di kisaran harga 10 ribu Rupiah. Namun waktu itu gw membelinya agak mahal (22 ribu) karena gw membelinya di sebuah toko suvenir di Yogjakarta. Di labelnya ada gambar seorang perempuan ber-rambut pirang sedang meniup (?) bunga di latar belakang pegunungan. Sungguh design yang klasik sekali.

Rita Brilliantine

Rita Brilliantine Contents

Tutupnya menggunakan tutup slip on, saat gw tarik tutupnya, terlihatlah brillantine padat berwarna hijau yang mengkilap. Dilihat dari isinya saja gw sudah tahu bahwa ini adalah minyak rambut yang sangat light. Gw dekatkan hidung gw untuk mencium aromanya dan tercium lah wangi lavender yang di saat yang bersamaan mirip juga dengan wangi minyak tanah. Pertama kali cium gw kurang suka dengan wanginya minyaknya agak keras. Namun lama kelamaan gw mulai terbiasa dengan wanginya.

Gw colek menggunakan jari gw, pomade ini agak padat dan licin. Namun begitu gw sebarkan di tangan kepadatannya hilang begitu saja dan menjadi cair di tangan gw. Di sebarkan merata dan disisir juga sangat mudah di rambut. Minyak rambut ini tidak memiliki daya set yang signifikan, namun untungnya masih cukup untuk menahan rambut gw di tempat dimana gw inginkan namun hasil sisiran pun tidak terlalu rapat karena minyaknya encer. Diluar dugaan, minyak rambut ini tidak membuat rambut gw sangat berkilau, padahal biasanya minyak rambut encer identik dengan kilaunya. Kilaunya pas dan tidak berlebihan.

Gw bisa menyisir poni gw cukup tinggi pada awal pemakaian karena minyaknya ringan dan tidak memberatkan rambut, jadi ada volume yang bisa gw capai. Namun gw tidak yakin setelah seharian beraktivitas dihajar panas dan keringat poni gw tidak bisa mencapai ketinggian yang sama, dan malah menjadi sering turun-turun. Minyak rambut ini lebih cocok untuk kegiatan indoor dimana anda tidak berkeringat, tidak terkena panas matahari, dan tidak banyak angin.

Using Rita Brilliantine

Poni bisa tersisir cukup tinggi karena minyaknya tidak memberatkan rambut

Using Rita Brilliantine

Hasil sisiran kurang rapat

Satu hari gw menggunakan minyak rambut ini seharian di dalam ruangan, minyaknya tampak mengering dan kilaunya semakin berkurang, menjadi lebih natural looking, namun daya setnya nyaris tidak berubah. Rambut gw tetap berada pada tempatnya. Rambut gw juga menjadi sangat lembut dan menurut saat disisir meskipun terlihat natural. Tapi tenang, minyaknya tidak benar-benar kering atau hilang! Saat gw keramas tangan gw terasa sekali licin saat memegang rambut, tandanya minyaknya tetap disana dan belum kering. Minyak rambut ini tidak dapat hilang dalam sekali keramas. Gw butuh 1-2 kali keramas untuk menghilangkannya sepenuhnya dan gw rasa itu cukup bagus.

Gw sendiri kurang dapat merekomendasikan minyak rambut ini apabila rambut anda merupakan rambut yang susah diatur seperti gw. Gw sendiri menggunakan minyak rambut ini untuk dirumah saja atau sebagai topper atau pengencer pomade heavy lainnya. Gw rasa Indonesia memerlukan pomade produksi lokal yang memiliki daya set tinggi sesuai tuntutan jaman agar nama pomade lokal dapat kompetitif dengan pomade import. Gw mendengar di Indonesia sendiri sepertinya muncul kaum “elitist” pomade yang terlalu bangga dengan produk import mereka dan mulai meremehkan produk impor lainnya yang lebih ‘murah’ atau ‘inferior’. Mungkin apabila ada pomade lokal yang bagus mereka bisa mulai membanggakan produk lokal dan stop menjelek-jelekkan pomade lain.

Categories: Pomade

45 Comments

Leave a Reply to jovan clearta putra Cancel reply